Rabu, 30 Maret 2011

saat kehilangan

Kehidupan  pernikahan  kami  awalnya  baik2  saja  menurutku.  Meskipun  menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang ke rumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic. Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itu pun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang. Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluar pun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.
Kalau  hari  libur,  dia  lebih  sering  hanya  tiduran  di  kamar,  atau main  dengan  anak2 kami,  dia  jarang  sekali  tertawa  lepas.  Karena  dia  sangat  pendiam,  aku  menyangka  dia memang tidak suka tertawa lepas. Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan  kami.
Sampai  suatu  ketika,  di  suatu  hari  yang  terik,  saat  itu  suamiku  tergolek sakit di rumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan di rumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah. Meisha  tidak secantik aku, dia begitu sederhana,  tapi aku  tidak pernah melihat mata yang  begitu  cantik  seperti  yang  dia miliki. Matanya  bersinar  indah,  penuh  kehangatan  dan penuh  cinta,  ketika  dia  berbicara,  seakan2  waktu  berhenti  berputar  dan  terpana  dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang,  laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
Meisha  tidak pernah kenal dekat dengan Mario  selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita  Mario  sangat  pendiam,  sehingga  jarang  punya  teman  yang  akrab.  5  bulan  lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang  bekerja  di  advertising  akhirnya  bertemu  dengan Mario  yang  sedang  membuat  iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja. Aku mulai mengingat 2-5 bulan  lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering  tertawa  lepas. Tapi di saat  lain, dia sering termenung di depan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya, “Hai Rima,  kenapa  dengan  anak  sulungmu  yang  nomor  satu  ini?  tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya”, lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi  Mario,  tiba2  saja  sepiring  nasi  itu  sudah  habis  ditangannya.  Dan….aku  tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun! Hatiku  terasa sakit,  lebih sakit dari ketika dia membalikkan  tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi  caesar  ketika  aku melahirkan  anaknya. Lebih  sakit  dari  rasa  sakit,  ketika  dia  tidak
mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia  tidak pulang ke rumah saat ulang  tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku. Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia  bisa  hadir  tiba2, membawakan  donat  buat  anak2,  dan membawakan  eggrol  kesukaanku.
Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2. Aku  tidak  pernah  bertanya,  apakah  suamiku mencintai  perempuan  berhati  bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.
Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatiku pun akan mendung, bahkan gerimis kemudian. Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7  tahun,  rambutnya keriting ikal  dan  cerdasnya  sama  seperti  ayahnya. Dia  berhasil membuka  password  email Papanya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?” Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku
tidak  pernah  merasakan  jatuh  cinta  seperti  ini,  bahkan  pada  Rima.  Aku  mencintai  Rima karena  kondisi  yang  mengharuskan  aku  mencintainya,  karena  dia  ibu  dari  anak2ku.
Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada
perasaan  bergetar  seperti  ketika  aku memandangmu,  tidak  ada  perasaan  rindu  yang  tidak pernah  padam  ketika  aku  tidak  menjumpainya.  Aku  hanya  tidak  ingin  menyakiti perasaannya. 
Ketika  konflik2  terjadi  saat  kami  pacaran  dulu,  aku  sebenarnya  kecewa,  tapi  aku
tidak  sanggup mengatakan  padanya  bahwa  dia  bukanlah  perempuan  yang  aku  cari  untuk mengisi  kekosongan  hatiku.  Hatiku  tetap  terasa  hampa,  meskipun  aku  menikahinya.
Aku  tidak  tahu,  bagaimana  caranya  menumbuhkan  cinta  untuknya,  seperti  ketika  cinta untukmu  tumbuh  secara  alami,  seperti  pohon2  beringin  yang  tumbuh  kokoh  tanpa  pernah  mendapat  siraman  dari  pemiliknya.  Seperti  pepohonan  di  hutan2  belantara  yang  tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.
Aku  tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang  lain dan aku adalah  laki2 yang  sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa,  itu  tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan  tertawa, dia bisa mendapatkan  segala  yang  dia  inginkan  selama  aku mampu. Dia  boleh mendapatkan seluruh  hartaku  dan  tubuhku,  tapi  tidak  jiwaku  dan  cintaku,  yang  hanya  aku  berikan untukmu. Meskipun ada  tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.
yours,
Mario
Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku. Suamiku  tidak  pernah  mencintaiku.  Dia  tidak  pernah  bahagia  bersamaku.  Dia mencintai  perempuan  lain.  Aku  mengumpulkan  kekuatanku.  Sejak  itu,  aku  menulis  surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
Mobil  yang  dia  berikan  untukku  aku  kembalikan  padanya.  Aku  mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput  anak2ku. Mario merasa  heran,  karena  aku  tidak  pernah  lagi  bermanja  dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu  terlalu  lama pacaran,  sedangkan  teman2ku  sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya. Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia  tidak mengatakan saja, bahwa dia  tidak mencintai aku dan  tidak menginginkan aku ?  itu  lebih aku hargai daripada dia  cuma  diam  dan  mengangguk  dan  melamarku  lalu  menikahiku.  Betapa  malangnya nasibku. Mario  terus menerus  sakit2an,  dan  aku  tetap merawatnya  dengan  setia. Biarlah  dia mencintai  perempuan  itu  terus  di  dalam  hatinya.  Dengan  pura2  tidak  tahu,  aku  sudah membuatnya  bahagia  dengan  mencintai  perempuan  itu.  Kebahagiaan  Mario  adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
**********
Setahun kemudian…
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu
masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
Mario,  suamiku….Aku  tidak  pernah menyangka  pertemuan  kita  saat  aku  pertama kali  bekerja  di  kantormu,  akan  membawaku  pada  cinta  sejatiku.  Aku  begitu  terpesona padamu yang pendiam dan  tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku  tidak bertepuk sebelah  tangan.  Aku  mencintaimu,  dan  begitu  posesif  ingin  memilikimu  seutuhnya. 
Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan  tidak memperdulikan aku. Aku merasa di atas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang  diinginkan  banyak  pria,  telah memenuhi  ruang  hatimu  dan  kamu  terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..
Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario. Aku melihat matamu  begitu  terluka,  ketika  berkata,  “kenapa, Rima? Kenapa  kamu mesti  cemburu?  dia  sudah  menikah,  dan  aku  sudah  memilihmu  menjadi  istriku?” Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang  aku  menyesal,  memintamu  melamarku.  Engkau  tidak  pernah  bahagia bersamaku. Aku  adalah hal  terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita  yang sempurna yang engkau inginkan.
Istrimu, Rima”
Di surat yang lain,
“………Kehadiran  perempuan  itu membuatmu  berubah,  engkau  tidak  lagi  sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”
Disurat yang kesekian,
“…….Aku  bersumpah,  akan  membuatmu  jatuh  cinta  padaku. Aku  telah berubah, Mario. Engkau  lihat kan, aku  tidak  lagi marah2 padamu, aku  tidak  lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan  ibumu. Aku  selalu  tersenyum menyambutmu pulang ke  rumah. Dan aku selalu  meneleponmu,  untuk  menanyakan  sudahkah  kekasih  hatiku  makan  siang  ini?
  Aku merawatmu  jika  engkau  sakit,  aku  tidak  kesal  saat  engkau  tidak  mau  aku  suapi,  aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah……. Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”
Meisha  menghapus  air  mata  yang  terus  mengalir  dari  kedua  mata  indahnya…
dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
Disurat terakhir, pagi ini…
“…………..Hari  ini adalah hari ulang  tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun  lalu engkau tidak pulang ke rumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude  Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
Saat  aku  tiba  di  rumah  kemarin malam,  aku melihat  sinar  kekhawatiran  dimatamu. Engkau  memelukku,  dan  menyuruhku  segera  ganti  baju  supaya  tidak  sakit. Tahukah engkau suamiku, Selama hampir 15  tahun aku mengenalmu, 6  tahun kita pacaran, dan hampir 9  tahun kita menikah,  baru  kali  ini  aku melihat  sinar  kekhawatiran  itu  dari matamu,  inikah  tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”
Jelita menatap Meisha, dan bercerita, “Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh  aku  melihat  keceriaan  diwajah  mama,  dia  terus  melambai-lambaikan  tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu  cantik. Meskipun dulu  sering marah2  kepadaku,  tapi  aku  selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya di seberang  jalan, Ketika mama menyeberang  jalan,  tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……”.
Jelita memeluk Meisha  dan  terisak-isak. Bocah  cantik  ini masih  terlalu  kecil  untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa. Meisha mengeluarkan  selembar kertas  yang dia  print  tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
Dear Meisha,
Selama  setahun  ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia  tidak  lagi marah2 dan selalu  berusaha  menyenangkan  hatiku.  Dan  tadi,  dia  pulang  dengan  tubuh  basah  kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya  aku  memiliki  dia.  Hatiku  mulai  bergetar….  Inikah  tanda2  aku  mulai mencintainya? Aku  terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku  akan  memberikan  surprise  untuknya,  aku  akan  membelikan  mobil  mungil  untuknya, supaya  dia  tidak  lagi  naik motor  kemana-mana. Bukan  karena  dia  ibu  dari  anak2ku,  tapi karena dia belahan jiwaku….
Meisha  menatap  Mario  yang  tampak  semakin  ringkih,  yang  masih  terduduk disamping  nisan  Rima.  Di  wajahnya  tampak  duka  yang  dalam.  Semuanya  telah  terjadi, “Mario…… Kadang  kita  baru  menyadari  mencintai  seseorang,  ketika  seseorang  itu telah  pergi meninggalkan kita.……”

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikanya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar